Beranda » Kearifan Lokal Suku Tengger & Keberlangsungan Bromo

Kearifan Lokal Suku Tengger & Keberlangsungan Bromo

ETALASE

Selasa, 09 Juli 2013 09:01 wib

Hari Istiawan - Okezone

MALANG - Ketaatan waga Tengger terhadap nilai-nilai yang dianut secara turun temurun menjadi kekuatan tersendiri bagi sekira 41 desa Tengger yang berada di empat kabupaten, yakni Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang.

Mereka sangat menghargai tanah atau lahan yang dimiliki. Sehingga, bagi orang Tengger, tanah-tanah tersebut tidak boleh dijual kepada orang luar. Mereka meyakini tanah merupakan warisan leluhur dan anugerah yang harus diolah, dirawat, serta dijaga. Dari situ, bisa mendatangkan hasil untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, dalam setiap upacara adat seperti unan-unan yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali (sewindu dalam hitungan kalender Tengger) ada mantra yang berisi permitaan ampun karena telah mengambil dan memanfaatkan apa yang ada di alam, seperti air, tanah, hewan, dan pohon.

Dosen hukum sumber daya alam Universitas Widyagama, Malang, Purnawan D Negara, mengatakan, kearifan orang Tengger menjaga lingkungan merupakan kunci kelestarian alam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Ada banyak upacara adat yang sebagian mantranya berisi permintaan maaf kepada Sang Pencipta.

"Karena itu, orang Tengger akan menanam dua kali lipat dari jumlah pohon yang ditebangnya," jelas pria yang juga pernah meneliti hukum adat Tengger itu.

Menurutnya, mereka sangat menjaga sekali alam sekitar dengan mengeramatkan tempat-tempat tertentu dan tidak boleh diganggu. Mereka yakin sekali bila melanggar larangan-larangan akan berdampak pada kehidupan, seperti mendapat bencana, sakit, dan lain-lain.

Salah satu kekuatan orang Tengger menjaga dan merawat tradisinya adalah karena peran dukun adat.

Dukun, kata Purnawan, mempunyai peranan penting dalam kehidupan orang Tengger. Bahkan, mereka lebih memilih tidak ada kepala desa atau petinggi daripada tidak ada dukun dalam suatu desa.

Setiap upacara adat, selalu dipimpin dukun, sehingga di setiap desa Tengger pasti ada satu atau dua dukun.

"Saat ini masih ada 41 desa Tengger di empat kabupaten dan memiliki 47 dukun," sebutnya.

Dukun-dukun di seluruh desa Tengger dipimpin oleh seorang koordinator bernama Mujono. Koordinator dukun biasanya memimpin upacara-upcara besar seperti Kasada yang dipusatkan di Gunung Bromo dan diselenggarakan setiap tahun.

Pihak pengelola taman nasional sendiri selalu meminta pertimbangan bila akan mendirikan bangunan maupun memperbaiki bangunan yang rusak di kawasan yang menjadi tempat suci orang Tengger.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari, mencontohkan, saat Gunung Bromo erupsi pada 2011, taman nasional berencana melakukan perbaikan atau revitalisasi di kawasan wisata. Namun berdasarkan konsultasi dengan para dukun Tengger belum diizinkan, sehingga perbaikan ditunda.

"Kami akan menjaga kearifan lokal warga Tengger," kata Ayu.

Kearifan lokal warga Tengger, kata Ayu, juga menjadi potensi wisata tersendiri. Berbagai upacara adat bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Sebagai imbal balik, pihaknya melibatkan orang-orang Tengger dengan menjadi porter, pemandu lokal, tukang ojek, menyediakan homestay, serta penyedia jasa kuda dan angkutan jip.
(ton)


source : http://news.okezone.com/read/2013/07/09/345/833988/kearifan-lokal-suku-tengger-keberlangsungan-bromo